Pages

Sunday, October 29, 2006

Perlambat Pikun dengan Latihan Otak

Saat hendak bepergian, Asri (42) sibuk mencari kunci mobil.
Pencariannya ke kamar, ke meja kerja, dan beberapa tempat lain tak membuahkan
hasil. Barulah, setelah beberapa saat, ia teringat bahwa sang kunci
'bertengger' di tas yang ia jinjing sedari tadi. Inikah tanda-tanda pikun?
Pikun atau demensia memang biasa terjadi pada lanjut usia (lansia).
Demensia menyebabkan kualitas hidup penderitanya jelek dan hubungan sosial
menjadi terganggu. Tak hanya itu, penderita juga menjadi beban keluarga
dan negara, kata dr Astuti SpS dari SMF (Staf Medik Fungsional) Saraf di
RS Dr Sardjito, Yogyakarta.

Proses menua dan usia lanjut memang proses alami. Fenomena menua ini
juga terjadi pada otak. Hal yang paling dirasakan adalah kemunduran daya
ingat (memori) dan ini bisa secara normal dan tidak normal. Inilah yang
kemudian menyebabkan demensia. Padahal, kepikunan pun bisa diperlambat
lho! Seperti Asri, misalnya, ada baiknya ia melakukan berbagai latihan
khusus memperlambat pikun, sebelum usia terlanjur lanjut.

Kemampuan daya ingat yang menurun secara normal pada lansia disebabkan
oleh proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori
yang tepat, dan kesulitan untuk pemusatan perhatian dan konsentrasi. Ia
juga memerlukan lebih banyak waktu untuk belajar hal yang baru,
memerlukan lebih banyak isyarat untuk mengingat kembali apa yang pernah
diingatnya. Orang yang mengalami kepikunan yang tidak normal, ia bisa lupa
makan, lupa nama pasangan, benda, angka, atau keterampilan yang pernah
dikuasai. Terkadang, ia pun lupa dengan aturan-aturan sosial.

Untuk itu Astuti pun memberikan beberapa kiat mengatasi kemunduran daya
ingat atau memperlambat kepikunan. Intinya, jangan biarkan otak Anda
berhenti bekerja. Berikut kiatnya:
- Selalu belajar, berarti aktifkan otak Anda. Bangkitkan minat memakai
pikiran dengan cara misalnya membiasakan membaca buku-buku yang
bermanfaat, seperti membaca Al-Qur'an rutin, matematika, berhitung, merancang,
atau memasak.
- Ulangi informasi yang baru untuk disimpan dalam ingatan
- Melatih memusatkan perhatian/konsentrasi, misalnya: dengan berdzikir,
shalat yang khusuk, yoga, dan lain-lain.
- Rekreasi.
- Ikut kegiatan sosial.
- Konseling ke spesilis saraf, untuk deteksi dini demensia.
- Membuat catatan atau biografi merupakan aktifitas lansia yang paling
baik dan sangat berharga.
- Menjaga kesehatan tubuh dengan pola hidup sehat seperti makan-makanan
sehat, istirahat/tidur cukup, hindari rokok dan alkohol.
- Gerak Latih Otak (senam otak) dan olahraga lain sesuai kemampuan.

Gerak dan Latih Otak
Pada prinsipnya dasar latihan otak adalah ingin otak tetap bugar dan
mencegah pikun. Otak adalah satu-satunya organ yang kecanggihannya
menurut para peneliti lebih canggih dari tata surya di alam lain. Seumur
hidup manusia menurut penelitian, otak hanya terpakai 20 persen dan 80
persen lainnya belum terungkap, kata dr Astuti SpS.

Astuti memberi contoh, tersumbatnya di bagian otak sebelah kiri di atas
telinga kita itu pusat berbahasa. Akibatnya, orang akan sulit
bicaranya. Jika yang terjadi lesi di atas puncak kepala, pas pusat penggerakan
jari tangan atau bibir, bisa cadel, lumpuh, dan sebagainya. ''Kita harus
memberi edukasi pada masyarakat untuk memelihara otak tetap bugar.
supaya kualitas hidupnya tetap terjaga baik. Karena sedikit lesi (luka),
jaringan otak tidak berfungsi sehingga dengan sendiri aktivitas/kualitas
hidup seseorang menjadi jelek,''kata Astuti.

Salah satu latihan untuk otak adalah dengan senam otak sehat atau yang
diciptakan oleh Asosiasi Alzheimer Indonesia disebut Gerak dan Latih
Otak (GLO). GLO ini bisa dilakukan oleh semua usia. Pada penderita
epilepsi anak, anak dengan cerebral palsy, anak yang gerak tangannya tidak
terkoordinasi selain difisioterapi, mereka juga bisa dilatih otaknya
lewat GLO.

GLO ini gerakannya mudah dan dapat dilakukan saat duduk atau berdiri.
dilakukan dengan perasaan senang, rileks, serta tidak menahan napas.
''Bila sedang berada di bus kota, sedang di depan meja komputer, gerakan
ini bisa saja dilakukan dalam hanya dalam lima menit. Biasanya latihan
yang dianjurkan tiga kali seminggu, masing-masing sekitar 15-20 menit,
harus selalu membayangkan gerak fisiknya, supaya tersambung sirkuit otak
dengan gerakan-gerakan yang sedang dilakukan.

1. Latih peregangan leher
Posisi badan menghadap lurus ke depan, dengan telapak tangan kanan pada
sisi kanan kepala. Tekan kepala ke arah kiri, sementara kepala
menghadap lurus ke depan. Otot-otot leher akan terasa teregang melawan dorongan
tangan. Lakukan delapan kali hitungan dengan tidak menahan nafas.
Lakukan secara bergantian dengan telapak tangan kiri.

2. Peregangan bahu dan lengan atas
a. Luruskan tangan kanan ke atas (di samping telinga), telapak tangan
menghadap ke depan. Tangan kiri melewati belakang di bawah siku tangan
kanan. Tangan yang lurus digerakkan ke belakang, sedangkan tangan yang
satunya menahan ke depan.
Akan terasa regangan pada bahu dan lengan atas. Hembuskan nafas pada
saat otot diaktifkan atau tegang. Kemudian lakukan bergantian dengan
tangan yang kiri, masing-masing dua kali.
b. Luruskan tangan kanan ke atas, di samping telinga dengan telapak
tangan menghadap ke dalam. Tangan yang lurus digerakkan ke kanan,
sedangkan tangan yang satu lagi menarik tangan kanan ke arah dalam. Lakukan
bergantian dengan tangan yang kiri, masing-masing dua kali.
c. Posisi tangan kanan lurus menekan ke arah telinga kanan dan tangan
yang satu lagi mendorong ke arah keluar. Lakukan bergantian dengan
tangan kiri, masing-masing dua kali.

3. Pemanasan sakelar otak
Gosoklah dua lekukan kiri dan kanan di bawah pertemuan tulang selangka
kiri dan kanan dengan tulang dada. Dengan tangan lain gosok daerah
perut. Usahakan mata bergerak ke kiri dan ke kanan, ke atas, ke bawah dan
memutar dari kiri atas ke kanan atas. Lakukan enam kali pernapasan
dengan tangan bergantian.

4. Latihan inti
a. Delapan tidur
Berdiri tegak, kepala lurus ke depan, tangan kanan lurus ke depan, ibu
jari menghadap ke atas di depan hidung. Gerakkan tangan ke kiri atas,
kiri bawah, kembali ke tengah, lalu ke ke kanan atas, kanan bawah dan
kembali ke tengah. Gerakan ini membentuk angka delapan tidur dan lakukan
tanpa diikuti gerakan bola mata.
b. Untuk variasi delapan tidur, gerakkan ibu jari sama seperti gerakan
delapan tidur, tetapi gerakan ibu jari diikuti dengan gerakan bola
mata. Lakukan latihan ini bergantian dengan tangan kanan, kiri, dan kedua
tangan saling berkaitan. Masing-masing dalam hitungan dua kali delapan.

No comments:

Post a Comment